Beberapa
Permainan Tradisional Bali
1. Pendahuluan
Permainan
Tradisional, merupakan bagian dari tradisi lisan, pada hakikatnya sama dengan
apa yang disebut permainan rakyat. Danandjaja (1984:171) menggolongkan
permainan rakyat ini ke dalam folklore. Permainan rakyat ini sangat bermanfaat
baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Biasanya berdasarkan gerak tubuh
seperti lari dan lompat, atau
berdasarkan kegiatan sosial sederhana seperti kejar-kejaran,
sembunyi-sembunyian, dan berkelahi-kelahian: atau berdasarkan matematika dasar
atau kecekatan tangan seperti menghitung dan melemparkan batu ke suatu lubang
tertentu; atau berdasarkan keadaan untung-untungan seperti main dadu. Berdasarkan
sifat permainan, maka permainan rakyat dapat dibagi menjadi dua golongan
bersar, yaitu permainan untuk bermain (Play) dan permainan untuk bertanding
(Game). Perbedaan dari keduanya ini, bahwa yang pertama lebih bersifat mengisi
waktu senggang atau rekreasi sedangkan yang kedua tidak mempunyai sifat itu.
Pada desa-desa tradisional seperti Bali, permainan dapat digolongkan menjadi
permainan sacral dan permainan sekuler.
Pengertian
permainan tradisional adalah permainan yang dilakukan oleh anak-anak setingkat
sekolah dasar. Tempat bermainnya bias dimana saja di tempat terbuka, dengan menggunakan
tubuhnya sebagai media, atau benda-benda sekitarnya seperti batu, kayu dan lain
sebagainya.
2. Bentuk-bentuk
Permainan Tradisional
Permainan tradisional biasanya dilakukan
oleh anak-anak sekolah dasar. Permainan ini tidak terhitung jumlahnya, namun
yang ada di Bali ada tiga belas permainan yang sudah dicatat oleh Taro (1993). Ini
tentu masih ada banyak yang lain di lapangan. Dalam permainan tradisional ini,
ada sejumlah peran tertentu. Untuk menentukan siapa yang berperan sebagai apa,
ditentukan dengan cara melakukan sut. Ada
berbagai jenis sut misalnya sut daun,
sut gunting, sut gajah dan lain sebagainya. Tidak Semua sut akan dijelaskan disini, sebagai contoh akan dijelaskan sut daun. Sut ini dilakukan oleh dua
orang pemain menggunakan jari tangan sebagai media permainan. Dalam melakukan
sut, tangan atau jari-jari mereka diumpamakan sebagai hal lain. Misalnya,
tangan terbuka diumpamakan sebagai daun, tangan tergenggam sebagai batu dan
telunjut sebagai duri atau lidi. Kedua orang pemain itu mengeluarkan tangannya
secara serempak dengan memilih salah satu dari tiga perumpamaan jari tangan
yang telah disepakati. Kalau umpamanya pemain A mengeluarkan batu, pemain B
mengeluarkan daun, maka yang menang adalah pemain B. Dari ketiga jenis
perumpamaan tadi, kalah menangnya terjadi sebagai berikut: (i) daun lawan batu,
menang daun; (ii) batu lawan daun menang daun; (iii) duri lawan daun, menang
duri; (iv) duri lawan batu menang batu. Logika kalah menang, penjelasannya
sebagai berikut: (i) daun dapat membungkus batu, (ii) batu dapat mematahkan
duri; (iii) duri dapat menusuk daun. Disini yang kalah dan yang menang
mempunyai peranannya sendiri-sendiri, sesuai dengan kesepakatan bersama, yang
kalah berperan apa, yang menang berperan apa. Biasanya yang kalah sut mendapat peran lebih berat.
Sut
ini
bukanlah inti permainan tetapi awal permainan untuk menentukan peran-peran yang
harus dilakukan oleh setiap pemain. Cara ini dirasakan adil, siapapun tidak akan
menolak kalau mendapat peran yang lebih berat, karena para pemain tidak
tergantung kepada besar kecilnya tubuh, bentuk perawakan, air muka, maupun
sifat-sifat dan watak pribadi tetapi, tergantung dari menang kalahnya dalam
sut. Setelah masing-masing pemain mempunyai peran, barulah mereka bermain.
Beberapa Permainan Tradisional
Permainan Adu Jangkrik ini ada
bermacam-macam: adu “Jangkrik Kipa” (jangkring yang pahanya tinggal satu), “Jangkrik
Bongol” (jangkrik Tuli), “Jangkrik Buduh” (jangkrik gila). Permainan adu
jangkrik ini adalah permainan yang meniru pertarungan dua ekor jangkrik jantan.
Dalam pertarungan ini diutamakan keterampilan, ketangkasan dan kekuatan
gigi-gigi jangkrik yang saling menggigit. Jangkrik yang menang adalah jangkrik
yang berhasil melumpuhkan musuhnya; mungkin mematahkan kakinya, merobek
sayapnya dan mematahkan gigi-gigi lawannya. Akan tetapi dalam permainan
anak-anak, pertarungan dua ekor jangkrik itu dilakukan bukan dengan mengadu
kekuatan gigi, tetapi dengan dorong mendorong dengan tangan atau dengan tubuh.
Jangkrik yang kalah adalah jangkrik yang dapat dirobohkan oleh lawan atau gagal
mengikuti aturan permainan yang telah disepakati.
Jangkrik kipa adalah salah salah satu
permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak di Bali. Jangkrik kipa
artinya jangkrik yang memiliki satu kaki belakang. Dalam pertarungan itu pemain
diharuskan nengkleng yaitu berdiri
dan melompat-lompat dengan satu kaki. Pertarungan dilakukan dengan kedua belah
tangan, saling dorong saling tarik atau saling banting sehingga salah seorang
pemain jatuh. Pemain yang dinyatakan kalah adalah pemain yang jatuh atau tidak nengkleng lagi.
Permainan Gagak mencuri telur atau Guak Maling Taluh (Bali). Dibeberapa
tempat permainan ini diberi nama Sikep-sikepan artinya “Elang-Elangan”. Yang menjadi
pencurinya bukannya gagak, tetapi burung Elang. Gagak dan elang sama saja, suka
mencuri telur dan memangsa anak ayam. Permainan ini idealnya berjumlah antara
sepuluh sampai lima belas pemain. Dalam permainan ada tiga peran. Peran pertama
berlaku sebagai gagak, tugasnya menangkap anak ayam. Peran kedua, sebagai induk
ayam, bertugas melindungi anak-anaknya dari sergapan gagak. Peran ketiga
sebagai anak ayam, tugasnya mengikuti komando induknya tidak mudah jatuh ke
cengkraman gagak.
Anak ayam berbaris di belakang induk
ayam agar tidak mudah tertangkap. Mereka semua (anak ayam) memegang pinggang
pemain didepannya. Hanya induk ayam yang tidak berpegangan, tetapi ia selalu
mengepakkan sayapnya (tangannya) untuk menahan serangan gagak. Yang dijadikan
sasaran gagak adalah anak ayam yang berbaris paling belakang. Gagak dinyatakan
kalah bila tidak berhasil manangkap anak ayam, dan induk ayam dinyatakan kalah
bila anak-anaknya banyak yang dimangsa.
Satu lagi contoh permainan tradisional
adalah Harimau Mengejar Kijang. Dalam permainan ini, Harimau berusaha mengejar
kijang sampai tertangkap. Namun si kijang walaupun hewan yang kecil dan lemah,
sulit juga tertangkap karena kijang mempunyai banyak sarang tempat bersembunyi.
Sarang-sarang tersebut dibuatkan oleh teman-temannya sendiri.
Permainan harus dimainkan banyak orang,
idealnya antara 12 orang sampai 30 orang. Para pemain dibagi menjadi tiga jenis
peran. Seorang anak menjadi harimau, seorang lagi menjadi kijang, sisanya
membagi diri dalam jumlah yang seimbang, membentuk sarang. Sebuah sarang
sebaiknya terdiri dari enam sampai delapan orang pemain. Pemain sebagai sarang
berdiri melingkar sambil berpegangan yang satu dengan lainnya. Sarang-sarang
kijang adalah teman akrab dan sekaligus menjadi musuh harimau itu.
Sarang-sarang tersebut berusaha
melindungi kijang. Hanya kijang yang dibiarkan dengan leluasa keluar-masuk
sarang. Kalau harimau memaksa masuk sarang, ia harus mengerahkan segenap
tenaganya agar berhasil menembusnya. Pada saat itu mungkin si kijang sudah
meloncat ke sarang lainnya.
0 komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas kunjungannya.